Posted by: pamzkichi on: June 6, 2006
A great post by Rhea
______________________________________________________
Sekolah itu Investasi
Memang tidak salah keputusan saya untuk memilih buku FIKIR: Catatan Seorang Pendidik sebagai bahan bacaan di kala saya merasa sedikit kesepian di tempat baru yang masih setengah asing ini.
Demi lengangnya kamar baru saya, dua kardus buku-buku saya (yang beraneka ragam sekali jenisnya) sekarang tersusun dengan rapinya di sebuah gedung di daerah Chinatown. Bukan, bukan museum apalagi perpustakaan (apalah buku saya…). Hanya sebuah tempat kediaman yang kebetulan merelakan tempatnya untuk dipenuhi beberapa barang lagi.
Beberapa buku, yang berarti penting bagi saya, masih saya bawa serta. Salah satunya adalah buku FIKIR. Walau saya tidak ikut serta dalam penulisannya, dan tidak menjadi salah satu tokoh dalam buku tersebut, saya harus mengakui bahwa saya bangga atas buku itu. Saya tetap merasa menjadi bagian darinya. Kisah-kisah yang diceritakan, dekat di hati saya. Peristiwa-peristiwa yang tertutur, menguak kembali memori yang tidak akan mungkin terkikis oleh waktu.
Buku ini adalah biografi dari seorang tokoh pendidik, yang kebetulan di bawah naungannyalah saya mengenyam pendidikan ketika usia menunjukkan angka 15-18 tahun. Seperti yang disebut juga di buku tersebut, jenjang usia tersebut bisa terbilang rawan. Para remaja mencari jati diri, terkadang tanpa tahu harus mencari ke mana. Seorang panutan yang dapat diandalkan sangat diperlukan perannya di saat ini, dan saya sangat bangga karena dia lah, Sr. Francesco Marianti, yang telah menjadi salah satu panutan saya (di samping keluarga dan orang tua sendiri tentu saja).
Kemarin, saya mengambil lagi buku tersampul rapi yang berbentuk bujur sangkar tersebut. Saya baca lagi halaman demi halamannya, membaca sedikit kisah masa kecilnya sampai dia memutuskan untuk menjawab positif panggilan Tuhan untuk menjadi hamba-Nya. Seorang suster berpakaian sederhana, yang tidak selalu berkerudung tetapi selalu setia dengan kalung salibnya yang menjuntai di leher. Tetap bersuara lantang, berlangkah tegap walau sudah lebih dari tujuh dekade dia menghuni dunia ini.
Ada satu kalimatnya yang (lagi-lagi) menguatkan saya, memberi inspirasi segar di tengah-tengah kehidupan yang terkadang terlalu padat ini.
“Sekolah adalah investasi,” begitu katanya.
“Pendidikan adalah satu-satunya harta yang tidak akan habis dimakan zaman. Jika kita mewariskan harta benda kepada anak-anak kita, itu tidak kekal. Harta benda bisa musnah dalam sekejap.” (Sr. Francesco Marianti, OSU. FIKIR: Catatan Seorang Pendidik, Panekuksanur. hal: 19).
Sebuah kalimat yang sungguh mengena.
Sudah beberapa kali, ketika beberapa teman mulai mengetahui rencana saya untuk melanjutkan studi bertanya:
“Kok lu bisa sih melepas pekerjaan yang sudah begitu mapan untuk lima tahun sekolah?”
“Lima tahun? Sekolah? Lu kurang kerjaan ya, Rhe.”
“Apa uang scholarship cukup untuk hidup dan menabung?”
“Kenapa sih mau menyiksa diri untuk sekolah begitu susah?”
Tentu saja, banyak yang ikut merasakan kesenangan saya, kebahagiaan dan sedikit rasa bangga. Banyak yang matanya ikut berbinar-binar mendengar berita tersebut. Banyak yang secara tulus mendoakan kelancaran jalan saya yang memang tidak mungkin mudah dan mulus itu.
Sebenarnya, bisa saja saya menjawab.
“Kenapa sih kok mau kerja terus?”
“Kenapa sih kok bisa senang dengan sarjana, ketika kita bisa berjuang untuk a doctorate degree?”
Tapi apakah saya menjadi benar kalau menanyakan hal-hal tersebut? Hidup orang berbeda-beda. Orang mempunyai mimpi yang berbeda untuk diraih. Tujuan hidup untuk diperjuangkan. Jadi kenapa kita harus mempertanyakan garis hidup yang sudah dipilih seseorang?
Apakah dengan Ph.D saya akan menjadi lebih dari orang lain? Tidak. Memang di bidang saya, saya akan “lebih” dari yang lain. Tetapi sama saja. Di bidang mereka, saya tidak ada apa-apanya.
Ketika orang membicarakan tentang uang, pendapatan dan tabungan, memang saya akui saya akan “tertinggal” dibanding teman-teman yang lain.
Tetapi, apalah artinya lima tahun dalam kehidupan saya yang panjang ini? Saya sudah menghabiskan tiga tahun setelah lulus merasa gelisah terus-menerus, merasa saya sangat salah tempat, apakah mereka pikir saya akan memperpanjang masa tersebut?
Tak pernah ketinggalan, saya selalu menjawab “Sekolah adalah investasi.”
Dari dulu saya ingin, keunikan sayalah yang akan menjadi sumber kekayaan hidup (tidak hanya terkungkung dalam kekayaan finansial, harap dicatat) saya dan keluarga. Sebuah keahlian yang akan saya bawa ke mana pun saya pergi. Sesuatu yang tidak bisa dilepas dari saya. Buat saya, itu adalah ilmu. Dengan PhD, saya (semoga) bisa menjadi sebuah entiti di dunia ini yang menyimpan sebuah ilmu pengetahuan yang berharga dan bisa digunakan untuk kepentingan orang banyak.
Saya tahu, memang tidak ada yang kekal di dunia ini. Seperti seorang teman baik yang selalu mengingatkan saya “Bahkan kepintaran kita Tuhan yang beri, Rhea. Dia tetap berkuasa penuh.”
Tetapi alam ini terlalu kejam. Uang dan kekayaan fisik bisa hilang dalam sekejab. Lihat saya betapa banyak kehilangan setelah bencana tsunami, gempa dan sebagainya.
“Sekolah adalah Investasi.”
Terima kasih Suster Francesco, yang walaupun sudah pensiun menjadi kepala sekolah saya, tetap menjadi panutan dan terang bagi saya.
Selamat malam semua, akan kubuka beberapa helai halaman buku itu lagi sebelum tidur. Sebuah buku yang ditanda tangan secara pribadi olehnya, dia yang masih ingat nama saya walaupun tanda tangan tersebut dibubuhkan lebih dari empat tahun sejak kami terakhir kali bertemu. Sebuah buku yang diakhiri dengan fotonya bersama (alm.) President John. F. Kennedy.
November 3, 2008 at 2:24 pm
Sekolah adalah Investasi yang tak nyata.
Tapi hasilnya nanti akan sangat luar biasa dibanding investadi lainnya.